Rencana Pembangunan ‘Smart City”di Dekat Eilat Dapat Mengeratkan Hubungan Arab Saudi-Israel

Photo courtesy of nocamels.com

 

Dibalik memanasnya hubungan Arab-Israel beberapa tahun terakhir ini, ternyata ada rencana besar yang dirancang oleh pihak kerajaan yang sangat konservatif itu, yaitu sebuah rancangan reformasi masa depan  yang diharapkan dapat membuka kembali hubungan kedua bangsa di masa yang akan datang.

Di pusat reformasi tersebut ada rencana mega proyek senilai $500 miliar yang dipimpin oleh Putera Mahkota Saudi Mohammed bin Salman Al Saud dimana proyek tersebut akan membangun sebuah “bisnis” pintar dan zona industri yang membentang dari Mesir ke Yordania.  Proyek ini merupakan bagian dari visi ekonomi Salman pada tahun 2030, yaitu sebuah dorongan untuk menjadikan ekonomi Arab tidak harus bergantung pada minyak, tetapi harus lebih banyak pada pengetahuan dan teknologi. Hal ini bertepatan dengan rencana modernisasi dari Sang Pangeran yang sudah dipublikasikan selama 32 tahun, termasuk keputusan baru yang mengizinkan wanita untuk mengemudi dan melakukan pemberantasan korupsi senilai $100 miliar kepada semua lapisan pejabat pemerintahan.

Lokasi geografis Israel yang berada diantara Mesir dan Yordania  menimbulkan spekulasi tentang potensi keterlibatan Israel dalam mega proyek tersebut. Padahal selama ini Arab Saudi dan Israel yang keduanya adalah sekutu Amerika Serikat, tidak memiliki hubungan diplomatik.

Meskipun tidak mempunyai hubungan resmi, namun hubungan kedua negara tersebut telah membaik dalam beberapa tahun terakhir, sebagian penyebabnya adalah karena bersama-sama menjadi oposisi  terhadap Iran yang melakukan hegemoni regional dan berupaya untuk mendapatkan senjata nuklir.

Arab Saudi maupun Israel keduanya menentang dengan kesepakatan nuklir Iran yang ditandatangani pada tahun 2015 antara Teheran dan 6 kekuatan dunia yaitu Amerika Serikat, Inggris, Perancis, Rusia, China dan Jerman. Alasannya karena kesepakatan tersebut tidak cukup untuk dapat mengendalikan program nuklir Iran dan bisa jadi malah mempercepat perolehan bom Teheran.

Perdana Menteri Israel Benyamin Netanyahu telah lama merindukan untuk dapat memperdalam hubungan antara negara Yahudi dan beberapa Negara tetangga Arab Sunni-nya,  meskipun beberapa dekade telah terjadi perang, permusuhan atas pembentukan Negara Israel pada tahun 1948 serta konflik Israel-Palestina.

Netanyahu dan pejabat teras Israel lainnya juga berpendapat bahwa negara-negara Arab dan masyarakat internasional pada umumnya, mencari teknologi ‘know-how’ dan kehebatan militernya, dan bersedia pula untuk mengembangkan hubungan di bawah radar guna mengeksplorasi cara-cara yang harus ditempuhnya.

Israel memiliki lebih banyak perusahaan startup per kapita daripada negara lain di dunia sehingga mendapat julukan “Negara Startup”.  Beberapa perusahaan Israel terutama perusahaan cyber security, selama bertahun-tahun diam-diam melakukan bisnis dengan Arab Saudi dan Negara-negara Teluk lainnya.  Pada tahun 2012 ketika perusahaan minyak nasional Saudi Aramco mengalami serangan cyber,  perusahaan cyber security Israel direkrut untuk membantu. Sementara itu pelaku usaha dan pebisnis Israel dan Arab Saudi secara regular  bertemu dalam konferensi dan banyak acara di Ibukota negara-negara Eropa. Pada tahun 2015, Israel membuka misi diplomatik di Uni Emirat Arab yang bertetangga dengan Arab Saudi.

“Perdagangan dan kolaborasi dalam teknologi dan intelejen berkembang diantara Israel dengan sejumlah negara Arab, uniknya, orang dan perusahaan yang terlibat didalamnya jarang yang membicarakannya secara terbuka” menurut laporan Bloomberg.

Sarit Ben-Shabat, seorang Dosen pada Interdisciplinary Center, Herzliya (IDC) yang menulis disertasi tentang Saudia Arabia, mengatakan bahwa Israel telah berhasil membangun aliansi dengan negara-negara Arab moderat, yang datang untuk melihat Yerusalem sebagai mitra kunci dalam persaingan mereka melawan Teheran,  yang mana hal ini memungkinkan berkembangnya hubungan non-diplomatik.

Ben-Shabat mengatakan kepada NoCamels, bahwa Israel memiliki kepentingan terlibat dalam rencana Arab Saudi untuk proyek pembangunan “Smart City” yang berlokasi tepat di dekat perbatasannya.  “Kami berbicara tentang uang yang banyak, peluang untuk sektor swasta, dan kesempatan yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk mengembangkan ekonomi Israel serta memasuki pasar yang secara resmi masih tertutup sampai sekarang.

Zona Ekonomi yang direncanakan, dikenal sebagai proyek NEOM (dalam bahasa Yunani berarti Baru; Latin: Neo; Inggris: New; Arab: Mustaqbal yang berarti futuristik)  akan membentang seluas 26.500 km2 atau 10.230 mil2 di dekat perbatasan Arab Saudi dengan Yordania, di seberang Selat Tiran Mesir yang memisahkan Laut Merah dan Teluk Aqaba, di dekat kota Eilat Israel bagian selatan. Zona tersebut akan berada dalam jarak berkendara singkat dari  kota resort Aqaba di Yordania dan akan menghubungkan Arab Saudi ke Mesir melalui sebuah jembatan yang diusulkan bernama Jembatan King Salman.

NEOM Saudi yang dijalankan dengan energi terbarukan dan dikelola oleh robot, dibangun berbagai pusat industri termasuk manufaktur cerdas, bioteknologi, energi, pengembangan pusat makanan dan hiburan serta akan menampilkan menara perkantoran dan hotel bintang lima. Hal ini memungkinkan kebebasan yang selama ini tidak pernah terjadi di kerajaan, dimana semuanya itu merupakan rencana ambisius yang ditetapkan oleh Sang Pangeran, dan pernah disampaikan pada sebuah konferensi bisnis internasional bulan lalu.  “Kita bisa melakukan 98% standar yang diterapkan di kota-kota serupa, tapi ada 2% yang tidak bisa kita lakukan seperti misalnya alcohol”, kata Sang Pangeran.

Pangeran Salman mengatakan bahwa ia membayangkan sebuah pusat bisnis yang digambarkan kepada Bloomberg sebagai ‘lompatan peradaban untuk kemanusiaan’ dimana semua yang terlibat harus berhubungan dengan kecerdasan buatan yang tidak bisa lepas dari internet.

Rabbi Abraham Cooper dari Simon Weisenthal Center yang telah bertahun-tahun terlibat dalam inisiatif kerjasama regional, mengatakan mungkin bukan suatu kebetulan jika Arab Saudi memilih sebuah kawasan untuk zona ekonomi yang diusulkan didekat perbatasan Israel, dimana Israel memang memiliki teknologi maju yang terus dikembangkan.

Cooper mengatakan kepada NoCamels bahwa ia menemani para pejabat dari sejumlah negara Arab untuk bertemu dengan pengusaha Startup Israel, dan sebaliknya mengatur delegasi Startup Israel yang akan melakukan perjalanan ke dunia Arab.

“Pelopor perubahan adalah para pengusaha Israel, dan wirausahawan Israel sama pentingnya, mereka tidak hanya sekedar diplomat Israel”, tambahnya.

“NEOM akan berada di salah satu arteri ekonomi paling menonjol di dunia. Lokasinya yang strategis juga akan memfasilitasi kemunculan zona tersebut sebagai pusat ekonomi global yang menghubungkan Asia, Eropa dan Afrika Utara”,  demikian pernyataan resmi dari The Public Investment Fund (PIF),  sebuah kedaulatan utama dana kekayaan Arab Saudi.

“Tempat ini bukan hanya untuk orang atau perusahaan biasa, tetapi akan menjadi tempat bagi pemimpi dunia”, kata Pangeran Salman

 

Israel mungkin saja pemimpi itu.

 

 

 

Artikel selengkapnya ada di nocamels.com

Please follow and like us:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *