Dua Pemuda Tampan Menciptakan Aplikasi Khusus Untuk Tuna Netra

RightHear’s app orients people with vision impairment. Photo: courtesy

 

Idan Meir dan Gil Elgrably adalah dua pemuda tampan dan cerdas yang pada awalnya mempelajari, mengamati dan ingin mengembangkan aplikasi  iBeacon, salah satu produk dari Apple.  IBeacon adalah perangkat semacam Bluetooth rendah energy yang dipasang oleh klien yang menginginkan tempat, produk, maupun informasi perusahaannya bisa di akses dengan cepat oleh pengguna smartphone.  Misalnya seorang pemilik toko buku yang membuka gerai di salah satu mall, dapat memasang iBeacon didepan pintu tokonya, agar segala hal tentang toko bukunya dapat diakses oleh pengguna smartphone  yang sedang berada di mall itu dengan cepat.

Ada beberapa kelemahan sistem iBeacon dimana pengguna harus membaca notifikasi informasi itu dalam layar smartphone, dan tentu harus memiliki aplikasinya.   Mereka berdua lalu memikirkan bagaimana sistem semacam iBeacon ini dapat diakses oleh penyandang tuna netra yang membutuhkan informasi cepat saat berada di mall, rumah sakit, sekolah atau tempat-tempat umum lainnya.

 

RightHear cofounders Idan Meir, left, and Gil Elgrably. Photo: courtesy

 

Kedua pemuda itu lalu mengikut pekan hackathon, yaitu semacam acara bagi para ahli IT maupun peretas dan menyebarkan ide aplikasinya melalui media internet. Acara ini di sponsori oleh pemerintah kota Ra’anana di pinggiran Tel Aviv.  Setelah 24 jam mengikuti program ini, keesokan harinya Pemerintah Kota menghubungi Meir, dan mengatakan bahwa ide mereka akan memberi angin segar bagi para penyandang tuna netra. Meir dan Elgrably pun merasa sangat gembira meskipun belum mempunyai produk.

Aplikasi untuk membantu para tuna netra ini bernama RightHear.  Aplikasi ini menyimpan  data dan informasi  dari sebuah tempat (mall, rumah sakit, pasar, sekolahan, museum, stasiun kereta api, bandara dan sebagainya).  Semua terekam dalam aplikasi, dan RightHear membebankan biaya kepada para pengelola tempat tersebut.  Aplikasi ini meniru fungsi direktori atau petunjuk yang tidak tertulis  dan bisa dilihat di layar, tapi melalui suara yang bisa didengarkan oleh pemegang handphone. Aplikasi ini bisa bisa diinstall secara gratis.

Klien pertama RightHear adalah Universitas Terbuka Israel, dan selama 2 tahun terakhir RightHear telah mengumpulkan data 200 tempat yang bisa diakses.

Kapan bunyi wicara itu muncul dan terdengar? Yaitu saat pengguna smartphone mendekati virtual sign, misalnya di sebuah kampus, akan terdengar:
“-meja informasi 100 kaki di depan anda, berada disebelah kanan”
“-konter beasiswa 50 kaki di sebelah kiri, buka jam 9 sampai 5 sore, Senin sampai Jumat”

Pengguna juga bisa mengarahkan telepon ke arah tertentu dan RightHear akan menunjukkan apa yang ada didepan pengguna.

Karena RightHear bertindak seperti direktori virtual, perusahaan tidak perlu memasang iBeacon di setiap pintu kantor atau tokonya sehingga biaya operasional perusahaan lebih murah.  Meir dan rekannya menyebut aplikasi ini ‘orientasi dalam ruangan’,  bukan ‘navigasi dalam ruangan’.

Aplikasi RightHear juga menyertakan tombol panggilan yang bisa digunakan untuk menghubungi orang di telepon dengan cepat, dari kantor dalam mall atau meja di lobby hotel.  Panggilan telepon juga terintegrasi dengan aplikasi Ride Sharing dan taksi online seperti Gett, Uber atau Lyft.  Pengemudi taksi akan menerima catatan sebelum menjemput, dan ia harus mencari pemesan taksi nya di dalam gedung tertentu.

RightHear hanya memiliki 5 orang staf dan memiliki kantor di Ra’anana. Kedua pemuda itu bercita-cita, pada tahun 2017 ini mereka dapat memperluas aksesnya lebih jauh ke Amerika Serikat.  Mereka mendapat dukungan saat memberikan aksesabilitas di KTT M-Enabling (Sebuah konferensi mengenai  inovasi dan teknologi yang ditujukan bagi para manula dan penyandang cacat) tahun ini di Washington DC.

Di Israel, RightHear memiliki hubungan bisnis dengan operator mall seperti Grup Azrieli, Sekolah-sekolah termasuk Weizmann Institute dan Tel Aviv University, Assuta Hospital dan Globus Cinema Chain.  Selanjutnya, diharapkan segala jenis tempat umum dapat diakses termasuk museum dan stadion olahraga.

Meir mempertimbangkan untuk mengembangkan kegunaan sistem RightHear diluar komunitas tuna netra, karena pada dasarnya, aplikasi  ini ‘free text to speech’,  artinya kita bisa menerjemahkan data ke bahasa lain. Bayangkan saja saat berada di bandara atau hotel di Spanyol dan kita tidak bisa bahasa Spanyol, dengan mengaktifkan aplikasi RightHear kita akan mengerti semuanya disini, Sekarang juga!

 

Artikel bersumber dari israel21c.

 

Please follow and like us:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *